Thursday, April 23, 2015

Pengorbanan ditengah Individualisme



‘Tittt… Tittt…’

Dengan perlahan kubuka kelopak mataku, sambil dalam hati sedikit menggerutu karena suara alarm dari ponselku yang menjerit-jerit memaksaku kembali ke alam nyata. Kuraih benda itu, dan di detik itu juga aku terkesiap..

APA ?! Jam 04.30 ?!


Kesadaranku langsung bangkit menyadari bahwa aku sudah terlambat bangun. Dengan bergegas aku bangkit dan membuka pintu, menuruni tangga dengan tergesa, dan langsung menyalakan kompor untuk memanaskan air yang sudah kupersiapkan malam sebelumnya. Sedikit mengherankan, bahwa aku tergesa-gesa disaat orang lain masih meringkuk dalam peraduannya, terbuai dalam alam mimpi. Namun, aku bangun sepagi ini bukan tanpa alasan. Aku memang sudah merencanakan sesuatu dengan teman-temanku, yaitu berjualan pakaian bekas di pasar pagi. Aku pantas tergesa-gesa, sebab waktu perjanjian kami adalah jam empat pagi. Ketepatan waktu adalah masalah yang sangat sensitif bagiku, sehingga aku memang benar-benar menerapkannya dalam kehidupanku sehari-hari. 

Suara air yang telah matang membuyarkan lamunanku. Dengan segera aku membuat teh, dan setelah itu langsung bergegas mandi, meskipun tak dipungkiri di pagi itu aku akan mendapatkan sebuah pengalaman hidup yang tak terlupakan..

Aku tengah bersiap-siap ketika kulihat Mama-ku turun, kutebak ia terbangun karena suara gaduh yang kutimbulkan dibawah. 

“Udah mau berangkat, ya ?” Tanyanya seraya mengambil gelas berisi teh yang ada dimeja. “Iya, Ma, udah telat, nih. Udahan, ya”  sahutku seraya menyambar jaket yang tergolek dan bergegas keluar untuk menyalakan motor.

“Hati-hati, nak, kabari Mama kalau sudah sampai,”  katanya sebelum aku berangkat.

Setelah aku mengiyakan, aku pun segera berangkat, dan bodohnya, melupakan sesuatu yang seharusnya tak kulupakan hari sebelumnya..

Aduh, kenapa harus sekarang, batinku. Dengan nanar kutatap jarum penunjuk bahan bakar yang sudah mencapai titik merah alias menuntut untuk diisi. Seharusnya, Papa-ku sudah mengisikan bahan bakarnya, karena selama ini ia lah yang mengisi, sebab motor yang kugunakan ini masih relatif baru, dan aku masih dalam tahap penyesuaian. Namun, sepertinya ia belum sempat mengisinya, sehingga sekarang merupakan saat pertamaku untuk mengisi bahan bakarnya. 

Untungnya, tak jauh dari rumahku ada stasiun pengisian bahan bakar, sehingga tak sampai lima menit aku sudah mengantri disana. Namun, cerita baru berawal disini..

Aku turun dari motor, seraya mencabut kunci dan berusaha membuka jok. Tak ada prasangka apa-apa dalam batinku, sebelum..

‘clek clek’

Kuputar lubang kunci jok motor itu, namun hasilnya nihil. Ada apa, nih, batinku seraya mencoba berpikir positif. Namun, sampai tiba giliranku, jok motor itu belum juga berhasil kubuka. Akhirnya dengan terpaksa kutepikan motor itu, sambil terus membuka jok yang anehnya susah sekali dibuka. Ini macet sepertinya, batinku seraya keringat dingin mulai menjalari tubuhku. Matahari perlahan mulai menampakkan sinarnya, menandakan hari sudah semakin pagi. Keinginanku untuk menyusul teman-temanku secepat mungkin buyar sudah, digantikan satu keinginan yang sebenarnya konyol, yaitu jok ini bisa dibuka..

Dan ditengah keputusasaanku berhadapan dengan jok motor yang tak berpihak kepadaku ini, aku mulai membayangkan adegan film yang beberapa kali kutonton. Kubayangkan seorang bapak welas asih yang menghampiriku seraya berkata, “Nak, bisa membukanya ? Sini, Bapak bantu” dan jok pun berhasil dibuka. 

Namun tentu saja tak akan ada yang seperti itu. Kupandangi perlahan orang yang mengantri untuk mengisi bahan bakar, seakan tidak peduli dengan sekitarnya, hanya mementingkan apa yang mereka perlukan tanpa perlu memperhatikan orang lain. Mungkin apa yang kupikirkan sedikit berlebihan, namun perlahan memang terasa individualisme yang semakin mengakar dalam gaya hidup modern saat ini.

Sambil terus berkutat dengan jok motor ini, aku disadarkan akan betapa dunia ini perlahan semakin keras, dimana kepentingan diri sendiri perlahan mengikis rasa peduli terhadap orang lain.

Sudahlah ! Sekeras apapun aku mencoba, jok ini tetap saja terkunci rapat ditempatnya. Aku sudah putus asa, hingga akhirnya aku mendapat pencerahan..

Kalau Papa bisa mengisi bahan bakarnya, berarti Papa bisa, dong, membuka jok motor ini ? Ah, aku tanya saja caranya !

Sambil menyalahkan diriku sendiri karena tidak menyadari hal ini lebih awal, aku menekan nomor ponsel Mama-ku, dan perlahan timbul secercah harapan ketika ada suara yang mengangkatnya diseberang. 

“Halo, nak, sudah sampai ya ?” Sahut Mama-ku.

Begitu lama waktu yang kugunakan hingga ia mengira aku sudah sampai. Kukatakan dengan sedikit jengkel, “Belum. Ini, lho, jok motor sama sekali nggak bisa dibuka ! Mau ngisi bensin nggak bisa-bisa ! Tolong dong, Mam, tanyain Papa cara membukanya”

Dan, setelah berusaha membangunkan Papa-ku yang masih terlelap, sudah kuduga apa yang akan dikatakannya setelah ini.

“Kan, sudah Papa ajarin bagaimana cara membukanya” Sahut Papa-ku.
‘Iya, udah coba daritadi berkali-kali, tapi kok tetap nggak bisa,” Kataku sambil membela diri. Tentu sudah ratusan kali aku mencobanya, namun tetap saja jok itu tidak bisa terbuka. Dan aku pun berkata, “Jadi bagaimana nih ? Bensin nggak bakal cukup kalau ke sana,”

Dan reaksi yang kuterima sungguh diluar dugaan..

“Yaudah, tunggu Papa disana” 

Singkat, padat, meskipun kurasakan sedikit nada jengkel dalam suaranya. Secercah harapan timbul dalam hatiku, sekaligus rasa sungkan karena tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri yang sebenarnya sepele. Akhirnya, kulihat Papa-ku datang. Dapat kuamati rambutnya masih acak-acakan, matanya masih sedikit merah khas orang yang baru saja terbangun dari tidur. Tanpa berkata-kata ia putar lubang kunci jok itu, dan..

‘CEKLEK’

APA ? BEGITU MUDAHNYA ?

“Nih, begini aja kok nggak bisa” Katanya.
“Lho, daritadi tak coba nggak bisa-bisa,” Sahutku, masih takjub akan betapa cepat dan gampangnya Papa-ku membuka jok itu. Dan akhirnya, ia mengajariku teknik untuk membuka jok itu, yang memang diperlukan karena ternyata jok itu sedikit macet. Ditutupnya jok itu, dan disuruhnya aku untuk membukanya sendiri. Kuulangi beberapa kali, akhirnya aku bisa membukanya. Begitu sajakah ? Lalu apa arti perjuanganku dari pagi hari tadi, batinku..

“Ya, sudah, Papa pulang” Kata Papa-ku sambil kembali ke motornya. Sambil berterima kasih, kupandangi motornya yang melaju pergi. 

Dan, dipagi hari ini aku disadarkan akan dunia ini yang semakin keras. Individualisme mengakar dalam gaya hidup orang banyak, mengikis tiap kemanusiaan dalam hati mereka. Namun, ditengah semua itu, masih ada segelintir orang yang mau dan rela berkorban, meskipun mereka tidak mendapatkan balasan apapun. Segelintir orang itulah yang biasa kita sebut sebagai ‘keluarga’. Ditengah individualisme yang tinggi, hanya keluarga lah yang mau dan rela berkorban demi kita.

Tak dipungkiri ada rasa jengkel dan marah saat dibangunkan hanya untuk memberitahu bagaimana cara untuk membuka jok motor, bahkan sampai harus pergi ke tempat demi membuka jok sepersekian detik. Namun, rasa kasih sayang pada anak yang sangat besar mengalahkan segala rasa jengkel dan marah tersebut, mengalahkan semua individualisme tersebut, dan menggerakkan hati untuk pergi membantu, sekalipun mengorbankan waktu tidurnya.

Dan, disinilah aku, berkat jok motor ini, kusadari arti dari sebuah pengorbanan yang tulus dari dalam hati..

No comments:

Post a Comment